Rupiah Melemah ke Rp 16.250 per Dolar AS, Bank BUMN Kompak Naikkan Kurs Jual Hari Ini

Penulis: Pandu Wibisono  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 09:53:31 WIB
Rupiah melemah ke posisi Rp 16.250 per dolar AS seiring penguatan mata uang Amerika Serikat.

KALIMANTAN BARAT — Koreksi rupiah terjadi seiring dengan sikap pelaku pasar yang masih wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat pekan depan. Tekanan eksternal dari penguatan dolar AS membuat mata uang Garuda kesulitan untuk beranjak dari level psikologis Rp 16.200-an.

Empat Bank BUMN Kompak, Selisih Tipis di Kurs Beli

Berdasarkan pantauan situs resmi masing-masing bank, kurs jual dolar AS di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI seragam di angka Rp 16.250 per dolar AS. Sementara itu, untuk kurs beli—yang menjadi acuan bagi nasabah yang hendak menukarkan dolar ke rupiah—terdapat variasi kecil. BCA membuka posisi di Rp 16.050, Mandiri di Rp 16.000, BRI di Rp 16.050, dan BNI di Rp 16.025.

Selisih kurs jual dan beli (spread) yang berkisar Rp 200–Rp 250 ini tergolong normal untuk transaksi eceran di perbankan. Namun, spread yang melebar biasanya menandakan tingginya ketidakpastian pasar sehingga bank lebih konservatif dalam mengelola likuiditas valas.

Dolar Perkasa, Rupiah Tertekan Sentimen Global

Tekanan terhadap rupiah bukan fenomena domestik semata. Indeks dolar AS (DXY) dalam sepekan terakhir bergerak di kisaran 105,5–106,0, didorong oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama dari perkiraan awal. Data ketenagakerjaan AS yang solid menjadi alasan utama sikap hawkish The Fed tersebut.

Di pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,3% ke posisi Rp 16.235 per dolar AS pada Kamis (25/6) kemarin. Level tersebut mendekati batas bawah kurs jual perbankan yang baru dirilis hari ini. Artinya, tekanan jual terhadap rupiah masih berlanjut tanpa adanya intervensi signifikan dari Bank Indonesia di pasar.

Apa Dampaknya bagi Investor dan Pelaku Bisnis?

Bagi importir, pelemahan rupiah ke Rp 16.250 berarti biaya pengadaan bahan baku dan barang modal yang dibayar dalam dolar AS semakin mahal. Perusahaan dengan utang dalam denominasi dolar juga akan mencatat beban bunga yang lebih tinggi dalam laporan keuangan kuartal kedua nanti.

Sebaliknya, eksportir komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, dan nikel justru diuntungkan. Setiap kenaikan kurs dolar AS menambah pendapatan dalam rupiah tanpa perlu menaikkan harga jual di pasar global. Investor di pasar saham pun perlu mencermati sektor perbankan dan properti yang sensitif terhadap pergerakan kurs, karena kenaikan dolar kerap memicu aksi jual asing di obligasi dan saham.

Bank Indonesia sendiri diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada RDG bulan Juli mendatang untuk menjaga stabilitas rupiah. Intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) juga terus dilakukan untuk mengendalikan ekspektasi pelaku pasar.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: investor.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top