Kecamatan Tebas di Sambas Bukan Sekadar Sentra Jeruk, Ini Sejarah dan Keunikan Geografisnya

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Senin, 01 Juni 2026 | 14:39:40 WIB
Petani di Kecamatan Tebas mengelola kebun jeruk di tengah lanskap rawa dan sungai.

SAMBAS — Kecamatan Tebas bukan sekadar pemasok jeruk bagi Kalimantan Barat. Wilayah yang terletak di pesisir utara Kabupaten Sambas ini memiliki lanskap geografis yang khas, dengan perpaduan dataran rendah, rawa, dan sungai-sungai yang membelah desa. Kondisi tanah dan iklim di sini menjadi faktor utama yang membuat jeruk tumbuh subur dan menjadi komoditas unggulan.

Selain potensi alamnya, Tebas menyimpan jejak sejarah yang panjang. Sebagai salah satu kecamatan tua di Sambas, wilayah ini pernah menjadi bagian dari jalur perdagangan dan pusat aktivitas masyarakat Melayu pesisir. Bentuk permukiman dan tata ruangnya masih mencerminkan pola kehidupan tradisional yang erat dengan sungai sebagai urat nadi transportasi dan ekonomi.

Geografi Unik: Antara Sungai dan Rawa

Secara geografis, Tebas berada di kawasan pesisir yang dipengaruhi pasang surut air laut. Banyak desa di kecamatan ini yang hanya bisa diakses melalui sungai atau jalan setapak di musim tertentu. Kondisi ini membentuk pola pertanian yang adaptif, di mana lahan rawa dimanfaatkan untuk kebun jeruk dengan sistem drainase khusus.

Jarak tempuh dari pusat Kota Sambas ke Tebas mencapai puluhan kilometer, dengan medan yang bervariasi. Meski akses darat terus diperbaiki, beberapa titik masih mengandalkan transportasi air, terutama saat musim hujan. Karakteristik inilah yang membuat Tebas berbeda dari kecamatan lain di sekitarnya.

Sentra Jeruk yang Menopang Ekonomi Lokal

Jeruk menjadi primadona pertanian di Tebas. Ribuan petani menggantungkan hidup dari hasil kebun jeruk yang dipasok ke berbagai kota di Kalimantan Barat, bahkan hingga ke luar provinsi. Produksi jeruk di sini dikenal memiliki rasa manis dan segar, sehingga diminati di pasar tradisional maupun modern.

Pemerintah daerah pun terus mendorong pengembangan komoditas ini melalui program penyuluhan dan bantuan bibit unggul. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga dan serangan hama masih kerap dihadapi petani. Meski begitu, semangat bertani jeruk di Tebas tidak pernah surut, karena sudah menjadi bagian dari identitas budaya dan ekonomi masyarakat setempat.

Warisan Sejarah yang Hidup di Tengah Kebun

Di sela-sela hamparan kebun jeruk, tersebar situs-situs bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan Tebas. Beberapa bangunan tua dan makam leluhur masih dirawat oleh warga sebagai bentuk penghormatan terhadap masa lalu. Tradisi lisan dan cerita turun-temurun juga masih hidup, mengisahkan tentang perjuangan para pendahulu dalam membuka lahan dan membangun permukiman di tengah alam yang keras.

Kombinasi antara potensi agraris, keunikan geografis, dan kekayaan sejarah inilah yang membuat Kecamatan Tebas layak dikenal lebih luas. Bukan hanya sebagai lumbung jeruk, tetapi juga sebagai wilayah dengan identitas yang kuat dan cerita yang patus untuk terus digali.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: pontianak.tribunnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top