KALIMANTAN BARAT — Kebijakan penurunan harga avtur ini berlaku untuk seluruh bandara yang dilayani Pertamina Patra Niaga di Indonesia. Penyesuaian tarif bahan bakar aviasi tersebut menjadi kabar baik bagi maskapai penerbangan yang selama setahun terakhir mengeluhkan tingginya biaya operasional.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, menyatakan bahwa penurunan harga avtur ini merupakan bagian dari upaya perusahaan mendukung konektivitas udara nasional. Dengan biaya avtur yang lebih murah, maskapai diharapkan bisa mengatur ulang struktur biaya tiket.
"Kami berkomitmen menjaga pasokan dan harga avtur yang kompetitif. Langkah ini kami ambil setelah mengkalkulasi efisiensi operasional dan kondisi pasar global," ujar Riva dalam keterangan resmi, Selasa (27/5).
Avtur selama ini menjadi komponen biaya terbesar bagi maskapai penerbangan, mencapai 30-40 persen dari total biaya operasional. Penurunan harga hingga 10 persen berpotensi meringankan beban keuangan perusahaan penerbangan secara signifikan.
Penurunan harga avtur dinilai strategis karena bertepatan dengan masa liburan sekolah dan musim liburan akhir tahun yang akan datang. Maskapai seperti Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, dan Batik Air dipastikan menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung dari kebijakan ini.
Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja, menyambut baik langkah Pertamina Patra Niaga. Menurutnya, penurunan harga avtur akan membantu maskapai memulihkan margin keuntungan yang sempat tergerus akibat fluktuasi harga minyak dunia.
"Kami berharap maskapai bisa menurunkan tarif tiket pesawat sehingga mobilitas masyarakat dan sektor pariwisata nasional ikut terdongkrak," ujar Denon.
Pertamina Patra Niaga memastikan stok avtur di 70 bandara yang dikelola aman dan mencukupi untuk kebutuhan domestik. Perusahaan juga terus memantau pergerakan harga minyak mentah global sebagai acuan penyesuaian harga di masa mendatang.
Sebagai anak usaha holding BUMN migas Pertamina, Pertamina Patra Niaga mengelola distribusi bahan bakar untuk sektor transportasi, termasuk aviasi. Penurunan harga avtur ini menjadi yang pertama dalam dua tahun terakhir setelah sebelumnya harga cenderung naik seiring kenaikan harga minyak dunia.
Kebijakan ini diharapkan tidak hanya menekan biaya logistik dan distribusi barang via udara, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata yang kompetitif di kawasan Asia Tenggara.