PONTIANAK — Skor cupping kopi Liberika binaan Bank Indonesia Kalbar naik signifikan dalam setahun terakhir. Dari 84,42 pada 2025 menjadi 85,58 pada 2026, angka ini menempatkan Kopi Kojal sebagai kopi Liberika dengan nilai tertinggi se-Kalimantan sekaligus masuk dalam jajaran 20 kopi terbaik Indonesia binaan Bank Indonesia.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Doni Septadijaya, mengatakan partisipasi di World of Coffee Bangkok 2026 menghasilkan sejumlah kerja sama strategis. Kopi Kojal memperoleh Letter of Intent (LoI) dari pembeli internasional asal Singapura, Thailand, Swedia, dan Dubai, serta pembeli nasional.
"Potensi transaksi mencapai 84.875 dolar Amerika Serikat per tahun, atau setara Rp 1,4 miliar hingga Rp 1,7 miliar," kata Doni di Pontianak, Senin.
Keberhasilan ini bukan hasil instan. Doni menjelaskan bahwa pendampingan Bank Indonesia dilakukan secara terintegrasi sejak 2019, mulai dari pembinaan petani, pengembangan metode pascapanen, standardisasi mutu, hingga fasilitasi promosi internasional.
"Pendampingan tidak hanya berorientasi pada peningkatan penjualan jangka pendek, tetapi juga membangun ekosistem usaha berkelanjutan berbasis kualitas dan inovasi," ujarnya.
UMKM Kopi Kojal bahkan berhasil mengembangkan protokol pascapanen Liberika yang mampu meningkatkan kualitas cita rasa secara signifikan. Protokol ini disebut Doni bisa diterapkan langsung oleh kelompok tani binaan di Kayong Utara.
Bank Indonesia Kalbar memandang capaian Kopi Kojal sebagai model pengembangan UMKM unggulan daerah. Model ini dinilai dapat direplikasi pada sektor lain melalui sinergi antara petani, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan lembaga pendukung.
Ke depan, program pembinaan akan diperluas melalui penguatan produktivitas, digitalisasi usaha, akses pembiayaan, business matching, serta promosi internasional. "UMKM lokal Kalimantan Barat mampu bertransformasi menjadi pemain global," kata Doni.
Sebelumnya, Kopi Kojal juga tampil pada ajang World of Coffee Jakarta 2025 sebelum akhirnya menembus pasar di Bangkok tahun ini.