KALIMANTAN BARAT — Pasar industri audiovisual MIA Market menutup edisi ke-12 di Roma dengan program yang diperluas ke sejumlah venue baru di Via Veneto. Kepala MIA Gaia Tridente menyebut edisi kali ini sebagai versi yang lebih kuat dan diperbarui, dihadiri sejumlah CEO studio serta sineas Eropa dan global. Perluasan ini disebut sebagai salah satu transformasi terbesar dalam sejarah penyelenggaraan MIA.
Penyelenggaraan MIA Market ke-12 resmi berakhir pada Jumat setelah sepekan agenda industri berlangsung di Roma. Sejumlah nama besar hadir, termasuk CEO Banijay Entertainment Marco Bassetti, CEO Studiocanal Anna Marsh, CEO Bad Wolf Jane Tranter, serta sutradara Edward Berger dan Asif Kapadia.
Edisi kali ini memperluas jejak lokasi dari markas tradisional di Palazzo Barberini dan Cinema Barberini ke sejumlah venue baru di sepanjang Via Veneto. Kawasan yang dikenal lewat film "La Dolce Vita" itu kini menjadi bagian dari identitas pasar, dengan seluruh aktivitas dirancang dalam jarak berjalan kaki.
Tridente menyebut perubahan tata letak sebagai salah satu transformasi terbesar MIA dan paling menantang dari sisi organisasi. Ia menegaskan pasar tidak sekadar menampung peserta yang bertambah, tetapi ingin menghadirkan pengalaman berbeda bagi pelaku industri.
"Kami sepenuhnya menata ulang geografi pasar, menciptakan distrik industri baru di jantung Roma, dengan Palazzo Barberini sebagai pusat dan jaringan venue di sepanjang Via Veneto," ujar Tridente.
Menurutnya, kota bukan lagi sekadar latar belakang, melainkan bagian dari keunikan MIA. Struktur baru ini dinilai memberi identitas lebih kuat sekaligus ruang tumbuh bagi pasar.
MIA edisi ini juga memperkenalkan pasar gap-financing khusus untuk serial animasi. Selain itu, ada program tersendiri yang memetakan beragam instrumen keuangan bagi produser Eropa, termasuk peran modal ekuitas yang kian besar dalam produksi film dan televisi.
Perubahan lain datang dari sisi jadwal. MIA kini digelar bersamaan dengan Rome Film Festival dan Alice nella Città, festival otonom yang berjalan paralel. Tridente menyebut langkah itu bagian dari strategi memperkuat posisi Roma sebagai hub internasional industri audiovisual.
"MIA tetap menjadi pasar industri internasional yang independen, dengan identitas dan tujuannya sendiri, tetapi penyelenggaraan bersama dua festival dapat menciptakan nilai tambah bagi seluruh industri," katanya.
Edisi ke-12 MIA menjadi forum industri pertama setelah gelombang pemutusan hubungan kerja besar di Netflix. Streamer asal Los Gatos itu memangkas sekitar 1.000 karyawan atau sekitar 6% dari total tenaga kerjanya, termasuk chief content officer Bela Bajaria dan head of film Dan Lin.
Pemangkasan itu menjadi rangkaian terbaru dari gelombang restrukturisasi dan merger, termasuk akuisisi Paramount Skydance atas Warner Bros. Discovery. Banyak peserta masih mencermati dampaknya terhadap lanskap produksi dan distribusi ke depan.
Sejumlah eksekutif memilih membaca turbulensi sebagai kesempatan. Roeg Sutherland, co-head media finance dan international film group CAA, menyebut merger dan kontraksi pasar justru membuka ruang bagi investor yang bergerak cepat.
"Dalam dunia saya, merger berarti peluang. Kontraksi berarti peluang," kata Sutherland.
Anna Marsh dari Studiocanal dan Canal+ menilai merger dan akuisisi penting untuk bertahan di tengah perubahan kebiasaan konsumsi, teknologi baru, dan konsolidasi korporat. Ia menekankan perlunya perspektif segar yang berani menantang status quo karena bisnis bergerak sangat cepat.
Bagi produser Eropa, gelombang akuisisi studio pan-Eropa seperti Banijay, Mediawan, dan Vuelta turut membuka peluang. Konsolidasi dinilai memberi akses lebih besar ke pendanaan dan distribusi lintas negara, meski tantangan kreatif tetap ada.
Perluasan program dan lokasi membuat MIA edisi ini menempatkan diri sebagai simpul pertemuan antara festival, pasar, dan pemodal di kawasan Mediterania. Roma pun kian diposisikan sebagai salah satu pusat industri audiovisual Eropa, bukan hanya tuan rumah acara tahunan.