KALIMANTAN BARAT — Keyakinan itu disampaikan Airlangga di tengah tekanan rupiah yang kian tajam. Kurs dolar AS yang menembus Rp18.000 menjadi ujian bagi daya tahan ekonomi domestik. Namun, pemerintah menilai pelemahan ini lebih disebabkan faktor eksternal ketimbang keroposnya fundamental dalam negeri.
"Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kemarin kan masih baik di 5,61%. Neraca perdagangan year to date juga masih positif," ujar Airlangga dalam keterangan resmi yang dikutip Sabtu (11/7/2026).
Airlangga mengakui neraca perdagangan sempat mencatat defisit dalam satu bulan terakhir. Namun, ia menegaskan penyebabnya bukan karena penurunan daya saing ekspor Indonesia.
"Defisit kemarin karena dari segi impor harganya spike, terutama impor BBM," jelasnya.
Ekspor komoditas unggulan seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy dinilai masih stabil. Pemerintah optimistis kinerja perdagangan akan kembali surplus dalam beberapa bulan mendatang seiring normalisasi harga energi global.
Untuk menjaga momentum produksi di tengah tekanan kurs, pemerintah menyiapkan jurus baru. Dua insentif fiskal tengah difinalisasi untuk industri petrokimia yang selama ini tertekan biaya impor bahan baku.
"Pemerintah mendorong beberapa insentif untuk industri petrochemicals," kata Airlangga.
Selain insentif fiskal, pemerintah juga mengandalkan program prioritas untuk menjaga daya beli. Laju inflasi disebut masih berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%. Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan perumahan terus digulirkan untuk mendorong sektor riil.
Menurut Airlangga, kinerja positif dua program kredit itu menjadi bantalan bagi konsumsi domestik yang berkontribusi lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB).
Airlangga menolak anggapan bahwa pelemahan rupiah merupakan cermin langsung dari perlambatan ekonomi. Ia merujuk pada proyeksi lembaga multilateral yang masih optimistis terhadap Indonesia.
"Dari berbagai lembaga, baik itu World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita dinilai masih dalam range sekitar 5%. Relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid," imbuhnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah akan lebih mengandalkan instrumen fiskal ketimbang intervensi langsung di pasar valas untuk menahan pelemahan rupiah. Bagi pelaku bisnis yang bergantung pada bahan baku impor, dua insentif bea masuk 0% bisa menjadi ruang napas di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat.