Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pemerintah Yakin Ekonomi 2026 Tetap Tumbuh 5% Berkat Stimulus dan Insentif

Penulis: Tedy Rustandi  •  Minggu, 12 Juli 2026 | 11:55:31 WIB
Rupiah melemah ke Rp18.000 per Dolar AS di tengah tekanan pasar global.

KALIMANTAN BARAT — Keyakinan itu disampaikan Airlangga di tengah tekanan rupiah yang kian tajam. Kurs dolar AS yang menembus Rp18.000 menjadi ujian bagi daya tahan ekonomi domestik. Namun, pemerintah menilai pelemahan ini lebih disebabkan faktor eksternal ketimbang keroposnya fundamental dalam negeri.

"Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kemarin kan masih baik di 5,61%. Neraca perdagangan year to date juga masih positif," ujar Airlangga dalam keterangan resmi yang dikutip Sabtu (11/7/2026).

Defisit Dagang Satu Bulan: Dampak Lonjakan Harga BBM, Bukan Ekspor Melemah

Airlangga mengakui neraca perdagangan sempat mencatat defisit dalam satu bulan terakhir. Namun, ia menegaskan penyebabnya bukan karena penurunan daya saing ekspor Indonesia.

"Defisit kemarin karena dari segi impor harganya spike, terutama impor BBM," jelasnya.

Ekspor komoditas unggulan seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy dinilai masih stabil. Pemerintah optimistis kinerja perdagangan akan kembali surplus dalam beberapa bulan mendatang seiring normalisasi harga energi global.

Dua Insentif Fiskal Baru: Bea Masuk 0% untuk Bahan Baku Plastik dan LPG Industri

Untuk menjaga momentum produksi di tengah tekanan kurs, pemerintah menyiapkan jurus baru. Dua insentif fiskal tengah difinalisasi untuk industri petrokimia yang selama ini tertekan biaya impor bahan baku.

  • Impor bahan baku plastik: Bea masuk akan dinolkan. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tengah disusun.
  • Impor LPG untuk industri: Tarif bea masuk 0% diberikan untuk periode enam bulan ke depan bagi perusahaan yang kesulitan bahan baku.

"Pemerintah mendorong beberapa insentif untuk industri petrochemicals," kata Airlangga.

Inflasi Terjaga, KUR dan Kredit Perumahan Jadi Bantalan Konsumsi

Selain insentif fiskal, pemerintah juga mengandalkan program prioritas untuk menjaga daya beli. Laju inflasi disebut masih berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%. Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan perumahan terus digulirkan untuk mendorong sektor riil.

Menurut Airlangga, kinerja positif dua program kredit itu menjadi bantalan bagi konsumsi domestik yang berkontribusi lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB).

Pelemahan Rupiah Tak Otomatis Jadi Sinyal Perlambatan

Airlangga menolak anggapan bahwa pelemahan rupiah merupakan cermin langsung dari perlambatan ekonomi. Ia merujuk pada proyeksi lembaga multilateral yang masih optimistis terhadap Indonesia.

"Dari berbagai lembaga, baik itu World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita dinilai masih dalam range sekitar 5%. Relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid," imbuhnya.

Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah akan lebih mengandalkan instrumen fiskal ketimbang intervensi langsung di pasar valas untuk menahan pelemahan rupiah. Bagi pelaku bisnis yang bergantung pada bahan baku impor, dua insentif bea masuk 0% bisa menjadi ruang napas di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: news.ddtc.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top