KALIMANTAN BARAT — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,06% di posisi 6.307 pada perdagangan Sesi I Kamis (24/9/2026), dengan saham big caps seperti BBCA dan IMPC sebagai penekan utama. Sepanjang sesi, indeks bergerak dalam rentang 6.304 hingga 6.368 tanpa sekali pun menyentuh zona hijau. Pelemahan ini dipicu penguatan harga minyak akibat eskalasi ketegangan AS-Iran serta lonjakan yield US Treasury tenor 10 tahun yang menembus 5,11%.
Bursa saham domestik mencatat kinerja negatif sepanjang paruh pertama perdagangan. Tekanan jual berlangsung sejak pembukaan dan kian dalam menjelang penutupan sesi pagi. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi sumber beban terbesar indeks.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) memimpin koreksi di jajaran big caps. Kedua saham ini menyumbang penurunan signifikan terhadap IHSG mengingat bobot kapitalisasi pasarnya yang besar.
Penguatan harga minyak mentah kembali membebani sentimen pasar saham. Pemicunya adalah meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah berbulan-bulan konflik di Timur Tengah.
Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan tegas yang menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara kedua negara. Pernyataan itu memperkuat kekhawatiran pasar bahwa konflik belum akan mereda dalam waktu dekat.
Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Investor menilai tekanan biaya energi dapat memaksa bank sentral utama mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Sentimen negatif juga datang dari pasar keuangan Amerika Serikat. Bursa Wall Street melemah di tengah lonjakan yield US Treasury tenor 10 tahun yang menembus level 5,11%.
Kenaikan yield obligasi pemerintah AS tersebut mencerminkan meningkatnya kecemasan investor terhadap inflasi. Tekanan harga minyak menjadi salah satu faktor yang mendorong ekspektasi inflasi lebih tinggi.
Perhatian investor kini tertuju pada peningkatan taruhan terhadap kenaikan suku bunga lanjutan dari Federal Reserve. Pasar menilai siklus pengetatan moneter AS benar-benar terjadi, seperti dilaporkan Bloomberg News.
Data perdagangan menunjukkan IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar pada Sesi I. Level tertinggi sesi ini berada di 6.368, sementara titik terendah menyentuh 6.304.
Indeks tercatat terus berada di zona merah sejak awal perdagangan. Penurunan bertambah dalam seiring berjalannya waktu tanpa adanya momentum rebound yang berarti.
Kombinasi tekanan eksternal dari harga minyak dan yield obligasi AS membuat ruang rebound IHSG pada sesi berikutnya cukup terbatas. Investor cenderung menunggu perkembangan konflik AS-Iran dan sinyal kebijakan The Fed.
Pelemahan saham big caps seperti BBCA dan IMPC menjadi perhatian karena keduanya merupakan penghuni utama indeks. Pergerakan keduanya akan sangat menentukan arah IHSG pada Sesi II.