Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sambas menargetkan Malaysia sebagai pasar utama produk perikanan daerah itu, dengan ubur-ubur Temajuk sebagai komoditas andalan bernilai ekonomi tinggi. Perairan Temajuk yang berbatasan langsung dengan Sarawak menghasilkan 40 hingga 60 ton ubur-ubur setiap musim Maret-Mei, dengan omzet mencapai Rp600 juta hingga Rp700 juta per pengumpul.
SAMBAS — Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sambas Hendy Wijaya menyatakan pihaknya terus menggenjot potensi sektor kelautan untuk menembus pasar lintas negara. Garis pantai Sambas yang membentang sekitar 198,76 kilometer dan berhadapan langsung dengan Laut Natuna serta wilayah Sarawak, Malaysia, dinilai menjadi modal strategis bagi perdagangan hasil laut.
Produksi perikanan tangkap yang tercatat melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat konsisten melewati 11.000 ton per tahun. Komoditas pelagis besar seperti tongkol dan tenggiri, serta pelagis kecil dan demersal mencakup kembang, bawal, kakap merah, hingga kerapu, tersedia melimpah di perairan tersebut.
Perairan Temajuk menyimpan komoditas bernilai jual tinggi yang jarang dilirik daerah lain, yakni ubur-ubur. Setiap kilang atau pengumpul di kawasan itu rata-rata menampung 40 hingga 60 ton ubur-ubur dalam satu musim, dengan perkiraan omzet menembus Rp600 juta sampai Rp700 juta.
Musim panen ubur-ubur berlangsung setiap Maret hingga Mei. "Hasil ubur-ubur selain dipasarkan ke Pulau Jawa, juga dikirim ke Malaysia dan Taiwan dengan harga jual sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram," kata Hendy.
Selain ubur-ubur, perairan Temajuk juga menghasilkan lobster pasir, pakistan, mutiara, dan batu. Hasil laut lain yang turut diangkat meliputi kepah, tengkuyung, kepiting, remis laut, serta gurita.
Hendy menyebut sejumlah komoditas bernilai ekonomi tinggi yang berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan kawasan pada periode tertentu, mulai Februari hingga Juli. Daftarnya mencakup tenggiri, bawal putih, bawal hitam, kakap, kakap merah, manyung, udang lobster, dan ubur-ubur.
Tangkapan nelayan Temajuk selama ini tidak hanya memenuhi kebutuhan warga setempat. Sebagian hasil dijual ke pengepul di Liku dan Tanah Hitam untuk pasar Kecamatan Paloh dan sekitarnya, sementara ikan bernilai tinggi dikirim hingga Pemangkat, Singkawang, dan Pontianak.
Di balik potensi besar itu, rantai pendukung produksi masih terkendala. Nelayan Temajuk belum memiliki stasiun pengisian bahan bakar umum khusus nelayan, sehingga pasokan BBM bergantung pada SPBU Tanah Hitam yang menjadi satu-satunya fasilitas pengisian di Kecamatan Paloh.
Ketersediaan es juga menjadi persoalan karena belum ada pabrik es di Temajuk. Nelayan masih mengandalkan es rumah tangga dan harus mengambil pasokan dari Tanah Hitam ketika membutuhkan dalam jumlah besar untuk menjaga kualitas hasil tangkapan.
Hendy menilai pembukaan kembali perlintasan Temajuk-Telok Melano dapat memperpendek jalur pemasaran sekaligus mempermudah dan mempercepat pengurusan perizinan. Kondisi itu dinilai membuka peluang pasar baru bagi hasil perikanan dan produk olahan masyarakat.
"Pembukaan perlintasan sangat berpotensi mendatangkan investor dalam negeri maupun luar negeri, mengingat potensi perikanan dan produk olahan ikan di Temajuk sangat menjanjikan," katanya.
Pemerintah juga berupaya meningkatkan sumber daya manusia nelayan dan masyarakat sekitar melalui pelatihan perdagangan produk perikanan lintas batas negara. Pelatihan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan bagi warga setempat turut disiapkan untuk menopang potensi kawasan tersebut.