KALIMANTAN BARAT — Produsen chip memori asal Amerika Serikat itu menyebut pembayaran ini sebagai penghargaan fiskal terbesar yang pernah dikeluarkan perusahaan. Secara global, lebih dari 60.000 staf Micron akan menerima insentif serupa menyusul kinerja keuangan yang memecahkan rekor.
Taiwan menjadi pusat manufaktur terpenting Micron dengan investasi lebih dari NTD 1,6 triliun dan menyerap 15.000 tenaga kerja. Nilai bonus di sana jauh melampaui standar industri memori global.
Perusahaan menetapkan kompensasi tunai minimum sebesar NTD 1,7 juta atau sekitar USD 53,8 ribu per pekerja. Karyawan yang bergabung sebelum 29 Agustus 2025 berhak atas bonus tunai langsung NTD 1 juta (sekitar USD 31,6 ribu).
Untuk insinyur pemula, rata-rata total paket yang diterima mencapai NTD 3,4 juta. Komponennya terdiri dari NTD 2,9 juta tunai dan sisanya dalam bentuk dana ekuitas. Seluruh staf juga mendapat alokasi hibah saham tahunan.
Jika dikonversikan, kompensasi minimum setara Rp 860 juta, sementara paket insinyur pemula menembus Rp 1,7 miliar dengan kurs Rp 16.500 per USD. Angka ini tergolong luar biasa untuk standar industri manufaktur di Asia.
Serikat pekerja yang mewakili sekitar dua pertiga karyawan Micron Taiwan menyatakan dukungan luas untuk menggelar aksi mogok. Mereka menilai bonus jumbo ini belum menyentuh akar persoalan sistem pengupahan.
Tuntutan utama pekerja adalah alokasi 15% dari total laba operasional perusahaan secara berkelanjutan sebagai bonus tahunan. Serikat menegaskan belum mencapai kesepakatan dengan manajemen dan akan tetap melanjutkan aksi mogok jika tuntutan diabaikan.
Skema profit-sharing yang diterapkan kompetitor asal Korea Selatan, Samsung dan SK Hynix, dinilai pekerja Micron telah memperlebar jurang pendapatan antarpekerja industri memori lintas negara.
Langkah agresif Micron ini tak lepas dari upaya menghindari krisis operasional seperti yang menimpa Samsung Electronics pada Mei lalu. Saat itu, ancaman mogok kerja 18 hari oleh 48.000 pekerja Samsung baru mereda setelah manajemen menyetujui alokasi bonus pembagian laba 10,5% dari keuntungan divisi chip.
Bagi Micron, gangguan produksi di fasilitas Taiwan berisiko besar karena negara itu menjadi tulang punggung pasokan DRAM dan NAND perusahaan. Permintaan chip memori tengah melonjak akibat gelombang investasi infrastruktur AI global.
Keputusan menebar bonus setara 68 kali gaji menunjukkan tekanan serikat pekerja di sektor semikonduktor Asia semakin kuat. Pabrikan lain di Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang kemungkinan menghadapi tuntutan serupa dalam siklus negosiasi upah berikutnya.