Impor Batu Bara Metalurgi RI Melonjak 4,4 Persen, Industri Nikel Jadi Pendorong Utama

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Rabu, 09 September 2026 | 08:20:31 WIB
Impor batu bara metalurgi Indonesia tercatat melonjak 4,4 persen pada paruh pertama 2026, didorong kebutuhan industri nikel dan aluminium dalam negeri.

KALIMANTAN BARAT — Analisis Bombay Strategy dalam laporan "H1 2026 Global Coal Imports" mengungkapkan fakta yang menarik. Perdagangan batu bara global hanya tumbuh tipis 0,8 persen secara tahunan menjadi 639,9 juta ton pada paruh pertama 2026. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai 677,1 juta ton.

Pertumbuhan tipis itu sama sekali tidak ditopang oleh batu bara termal. Komoditas yang biasa dipakai untuk pembangkit listrik ini justru terkontraksi 0,9 persen. Sebaliknya, batu bara metalurgi, kokas, dan antrasit yang menjadi bahan baku industri justru melesat 4,4 persen menjadi 157,3 juta ton.

Bukan Karena Baja, Melainkan Nikel dan Aluminium

Yang menarik, kenaikan impor batu bara metalurgi ini terjadi di tengah produksi baja dunia yang justru turun 0,7 persen. Artinya, lonjakan permintaan ini murni berasal dari faktor di luar industri baja.

Pendiri Bombay Strategy Hozefa Merchant menjelaskan, pemulihan tipis ini bukanlah ekspansi pasar, melainkan koreksi marginal dari basis tahun 2025 yang lemah. Setidaknya ada tiga pemicu utama: guncangan pasokan domestik di China, penghapusan kuota impor kokas metalurgi di India, dan pertumbuhan kapasitas industri pengolahan nikel serta aluminium di Indonesia.

"Ambisi Indonesia di sektor ini semakin nyata dengan adanya akuisisi portofolio tambang Anglo-American di Queensland, Australia, oleh perusahaan yang berbasis di Indonesia dan terdaftar di Inggris. Ini menandakan strategi jangka panjang untuk mengamankan rantai pasok industri dalam negeri," kata Hozefa dalam pernyataannya, Selasa (8/9/2026).

Kebijakan Pengetatan Ekspor RI Justru Menekan Pasar Termal

Data Bombay Strategy menunjukkan peran ganda Indonesia dalam perdagangan batu bara global. Ketika pemerintah menerapkan kebijakan pengetatan ekspor pada Maret-Juni 2026, impor batu bara termal global justru turun 1,7 persen.

Kawasan Asia yang menguasai 88,6 persen volume termal dunia menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 3,6 persen. Bahkan Eropa yang terdampak langsung gangguan pasokan gas alam cair (LNG) dari Qatar tidak beralih ke batu bara. Benua biru itu justru mencatatkan penurunan impor termal terbesar, mencapai 11,1 persen secara tahunan.

Kondisi ini menunjukkan pergeseran struktur permintaan batu bara global. Jika sebelumnya batu bara termal menjadi primadona untuk pembangkit listrik, kini fokus bergeser ke batu bara metalurgi yang dibutuhkan untuk hilirisasi industri mineral di dalam negeri.

Bagi Indonesia, lonjakan impor batu bara metalurgi ini menjadi sinyal bahwa kebijakan hilirisasi nikel dan aluminium mulai membuahkan hasil. Industri pengolahan dalam negeri membutuhkan pasokan kokas dan batu bara metalurgi yang stabil untuk menjaga kelangsungan produksi smelter-smelter yang terus bertambah.

Namun di sisi lain, pengetatan ekspor yang dilakukan pemerintah juga berdampak pada berkurangnya pasokan batu bara termal ke pasar global. Kebijakan ini memang dirancang untuk memastikan kebutuhan domestik terpenuhi, tetapi konsekuensinya terasa hingga ke pasar Eropa dan Asia.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top