Dewan Ekonomi Nasional Dorong Indonesia Jadi Pencipta AI, Bukan Sekadar Pasar

Penulis: Ramli Siregar  •  Senin, 07 September 2026 | 19:22:01 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan pandangannya mengenai pengembangan kecerdasan buatan di Indonesia.

KALIMANTAN BARAT — Luhut menilai pengembangan kecerdasan buatan di Indonesia tidak bisa berjalan sendiri. Ia mengaitkannya langsung dengan dua fondasi utama: energi bersih dan pendidikan STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika).

"Melalui perpaduan AI bertenaga energi bersih dan pendidikan STEM, kita membangun kapasitas nasional agar Indonesia berdiri sendiri sebagai pencipta global, bukan sekadar konsumen," ungkapnya dalam gelaran yang menjadi bagian dari Bali Harmony Encounter Week 2026 di KEK Kura Kura Bali.

Adopsi Tinggi Belum Cukup

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid memberi catatan penting. Tingginya tingkat penggunaan AI, terutama di kalangan generasi muda, menurutnya tidak otomatis berbanding lurus dengan kapasitas nasional.

"Indonesia tidak memulai dari nol mengingat pesatnya adopsi AI di kalangan generasi muda, namun tingkat penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional," kata Meutya.

Ia menambahkan, tanpa penyelarasan strategis di seluruh bidang kebijakan, riset, talenta, dan infrastruktur, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar konsumen bagi teknologi luar.

Garuda Spark Jadi Jembatan Kolaborasi

Meutya menyebut kehadiran "Garuda Spark Innovation Hub" di UID Bali Campus sebagai salah satu langkah konkret. Fasilitas ini dirancang berperan sebagai Regional Hub dan Global Gateway Indonesia.

Fungsinya menghubungkan industri, investor, dan inovator global agar ekosistem AI dalam negeri memiliki pijakan yang lebih kokoh untuk bersaing di tingkat internasional.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: riaupos.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top