KETAPANG — Peristiwa nahas itu menimpa SAK (28), SAH (41), PK (22), dan JY (21). Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris membenarkan bahwa para korban berada di lokasi untuk mengambil air, bukan melakukan aktivitas penambangan.
"Musim kemarau menyebabkan sumber air di wilayah tersebut cukup sulit diperoleh sehingga warga berupaya memanfaatkan sumber air yang masih tersedia," ungkap Harris, Minggu (6/9/2026).
Kejadian berawal saat korban menggunakan mesin pompa untuk menyedot air dari lubang bekas galian. Namun, selang yang digunakan tidak mencapai sumber air sehingga salah seorang dari mereka memutuskan turun ke dalam lubang untuk menurunkan mesin tersebut.
Setelah mesin berhasil diturunkan, air sempat mengalir dan ditampung menggunakan terpal. Namun, salah seorang korban tiba-tiba terlihat tidak sadarkan diri di dalam lubang. Diduga kuat, korban kekurangan oksigen di dasar galian yang dalam dan minim sirkulasi udara.
Melihat rekannya pingsan, korban lainnya berupaya memberikan pertolongan dengan turun ke dalam lubang. Malang, satu per satu dari mereka justru mengalami kondisi serupa hingga akhirnya keempat korban tidak mampu keluar dari lubang tersebut.
Saksi yang berada di atas tanah kemudian bergegas meminta bantuan warga. Masyarakat sekitar pun melakukan proses evakuasi terhadap para korban secara gotong royong.
Sekitar pukul 16.00 WIB, seluruh korban berhasil diangkat dari dalam lubang oleh warga. Salah seorang korban sempat dilarikan menuju fasilitas kesehatan, namun dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan. Tiga korban lainnya dinyatakan meninggal dunia setelah berhasil dievakuasi dari dalam lubang.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi warga di tengah krisis air akibat kemarau. Bahaya laten lubang bekas PETI yang kerap ditinggalkan tanpa pengaman kembali memakan korban jiwa, kali ini bukan menimpa penambang, melainkan warga yang hanya ingin memenuhi kebutuhan air bersih harian.