12 Titik Karhutla di Singkawang Masih Menyala, Pemkot Alihkan Sekolah ke Daring dan Kerahkan Sumur Bor

Penulis: Ramli Siregar  •  Minggu, 30 Agustus 2026 | 00:14:02 WIB
Kabut asap karhutla menyelimuti Singkawang, Kalimantan Barat, dengan 12 titik api yang masih menyala dan kualitas udara tidak sehat.

Pemerintah Kota Singkawang, Kalimantan Barat, memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hingga kini masih menyisakan 12 titik api dan membuat kualitas udara masuk kategori tidak sehat. Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie memutuskan pembelajaran tatap muka dialihkan ke sistem daring untuk mengurangi paparan asap terhadap pelajar. Langkah ini diambil menyusul dampak kabut asap yang mulai mengganggu aktivitas ekonomi, kesehatan, hingga jadwal penerbangan di Bandara Singkawang.

SINGKAWANG — Kabut asap akibat karhutla yang melanda Singkawang dalam beberapa pekan terakhir memaksa pemerintah kota mengubah skema kegiatan belajar mengajar. Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie menyebut kualitas udara di kota tersebut kini berada pada level tidak sehat berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

"Dampaknya dirasakan dari sisi ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Dari sisi udara atau ISPU, kondisi udara kita sudah tidak sehat," kata Tjhai Chui Mie di Singkawang, Sabtu.

Belajar Jarak Jauh dan Gangguan Penerbangan

Kebijakan pembelajaran daring diambil sebagai langkah mitigasi paling cepat untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan pada anak didik. Sementara itu, sektor transportasi udara juga ikut terdampak. Kondisi jarak pandang yang rendah akibat asap mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Singkawang, menghambat mobilitas warga yang hendak keluar atau masuk daerah.

Strategi Pengepungan dan Kebutuhan Air di Lapangan

Untuk memadamkan titik api yang tersebar, pemerintah kota menerapkan strategi pengepungan melibatkan personel gabungan dari TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, BPKS, serta Masyarakat Peduli Api (MPA). Operasi pemadaman difokuskan pada 12 titik yang masih membutuhkan penanganan serius.

Ketersediaan air menjadi kunci utama dalam operasi darat tersebut. TNI telah membuka tiga sumur bor untuk memasok kebutuhan air, dan pemerintah daerah menyiapkan penambahan titik bor apabila pasokan di lapangan masih kurang. Selain itu, Pemkot Singkawang juga akan membuat saluran pembatas agar api tidak merambat dari satu lahan ke lahan lainnya.

Dukungan Swasta dan Posko Pengendalian

Penanganan karhutla tidak hanya bertumpu pada aparat. Wali Kota mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan pihak swasta yang turut menyuplai air serta membantu proses penyemprotan di lokasi kebakaran. "Ini menjadi kebanggaan kita karena masyarakat ikut bergerak," ujarnya.

Untuk mempercepat koordinasi lintas instansi, pemerintah daerah telah mendirikan posko penanganan di Singkawang Selatan dan Singkawang Utara, dengan posko pusat berada di Kantor Wali Kota Singkawang. Tim gabungan terus melakukan pemantauan kondisi lapangan secara berkelanjutan.

Doa Bersama dan Rencana Salat Istisqa

Di tengah upaya teknis pemadaman, Pemkot Singkawang juga menggandeng tokoh lintas agama untuk menggelar doa bersama memohon turunnya hujan. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang Muhlis mengatakan pihaknya telah mengimbau masjid-masjid untuk menyisipkan doa meminta hujan dalam khutbah dan pelaksanaan Salat Jumat.

"Mudah-mudahan hujan segera turun," katanya.

Muhlis menambahkan, apabila hujan belum juga turun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Singkawang dijadwalkan menggelar rapat pada 1 September 2026 untuk membahas kemungkinan pelaksanaan Salat Istisqa'. Rencana ini menjadi ikhtiar terakhir setelah upaya pemadaman darat terus diintensifkan.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: kalbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top