KALIMANTAN BARAT — Menjadi orang tua adalah peran penuh waktu yang tidak pernah libur. Antara pekerjaan kantor, mengurus rumah, dan menemani anak bermain, momen untuk sekadar menarik napas sering kali terasa mustahil. Padahal, memberikan jeda untuk diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan kebutuhan agar Bunda dan Ayah bisa kembali menjadi versi terbaik untuk keluarga.
Psikiater bersertifikasi dari Mindpath Health, Zishan Khan, MD, mengingatkan bahwa rasa lelah dan kewalahan adalah hal yang wajar. Sama seperti anak yang butuh tidur siang agar tidak rewel, orang tua juga membutuhkan istirahat mental dan emosional. Masalahnya, bagaimana caranya meminta waktu tersebut tanpa membuat si kecil merasa ditolak?
Survei dari Pew Research Center mencatat, orang tua pada 2016 menghabiskan sekitar 14 jam seminggu untuk mengasuh anak. Angka ini belum termasuk jam kerja yang terus bertambah. Akibatnya, banyak Ayah dan Bunda yang merasa bersalah ketika ingin menyisihkan waktu untuk diri sendiri, padahal kondisi ini justru bisa memicu kelelahan yang berdampak pada pola asuh.
Meminta "waktu tenang" pada anak memang bukan perkara mudah. Orang dewasa paham konsep privasi, tetapi anak melihatnya sebagai momen kehilangan perhatian. Kuncinya bukan pada apa yang Bunda lakukan, melainkan bagaimana Bunda mengomunikasikannya.
Daripada berkata "Bunda capek, jangan ganggu dulu", coba ubah cara penyampaian menjadi lebih positif. Dr. Zishan Khan menyarankan untuk menjelaskan bahwa ini adalah kebutuhan universal. Katakan, "Setiap orang butuh waktu untuk mengistirahatkan otaknya, jadi Bunda akan meluangkan sedikit waktu tenang agar punya lebih banyak energi untuk bermain denganmu nanti."
Ungkapan ini memperjelas bahwa waktu sendirian bersifat sementara dan bukan penolakan. Anak akan memahami bahwa setelah momen tenang selesai, Bunda akan kembali hadir untuknya dengan lebih ceria.
Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang. Kegiatan sederhana seperti menunggu mesin cuci selesai bisa menjadi celah emas untuk me time. Gunakan 20-30 menit tersebut untuk membaca buku, menikmati kopi hangat, atau sekadar duduk diam tanpa gawai.
Hindari membuang waktu berharga ini dengan berselancar di media sosial tanpa tujuan. Pilih aktivitas yang benar-benar mengisi ulang energi, bukan malah menguras fokus.
Tidak ada salahnya meminta bantuan pasangan, kakek-nenek, atau pengasuh untuk menjaga si kecil. Berbagi tugas pengasuhan bukan tanda Bunda tidak mampu, melainkan cara cerdas untuk menjaga kesehatan mental. Dengan begitu, Bunda bisa mendapatkan waktu istirahat yang lebih lama dan berkualitas.
Melansir dari Motherly, orang tua bisa memilih kegiatan me time yang bisa "ditunggu" oleh anak. Misalnya, sambil menunggu roti matang di oven atau proses mencuci selesai, Bunda bisa duduk tenang di ruang tamu. Anak tetap bisa melihat Bunda, namun mereka paham Bunda sedang tidak bisa diganggu untuk sementara waktu.
Jika rasa lelah dan mudah marah berlangsung terus-menerus, Bunda perlu waspada. Kesulitan tidur, kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukai, atau merasa tidak mampu mengasuh anak bisa menjadi tanda awal burnout. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.
Mengatur waktu untuk diri sendiri adalah investasi jangka panjang untuk kebahagiaan keluarga. Dengan energi yang pulih, Bunda bisa memberikan kasih sayang dan perhatian yang lebih berkualitas kepada si kecil. Jadi, jangan ragu untuk mengambil jeda sejenak, ya.