PONTIANAK — Langkah Disporapar Kota Pontianak untuk memastikan identitas visual hari jadi kota lahir dari tangan warga sendiri mulai menemui titik terang. Sebanyak 16 tim kreatif dinyatakan lolos kurasi awal dan berhak mengikuti workshop intensif selama dua hari sebelum memperebutkan posisi lima besar finalis.
Kepala Disporapar Kota Pontianak, Rizal, menegaskan bahwa kebijakan ini sengaja diambil untuk menutup ruang partisipasi desainer dari luar daerah. Syarat ketua tim wajib ber-KTP Pontianak menjadi pagar utama agar karya yang dihasilkan benar-benar merepresentasikan denyut nadi kota.
"Tahun ini kita coba agar kegiatan ini benar-benar bisa di-branding oleh orang Kota Pontianak. Karena kalau kita buka di ruang publik yang luas, kita tidak bisa mengatur yang datang dari kabupaten lain atau provinsi lain," ujarnya di sela-sela workshop.
Menurut Rizal, kedekatan emosional perancang dengan keseharian kota menjadi nilai tambah yang tidak bisa diukur dari sekadar portofolio. Ia menilai desainer lokal lebih paham simbol-simbol budaya, sejarah Kesultanan, hingga semangat masyarakat Pontianak yang pluralis.
"Maka tahun ini kita coba dorong agar ini menjadi kebanggaan orang Kota Pontianak," tegasnya.
Rizal mengingatkan para peserta bahwa workshop ini tidak berfokus pada kemampuan teknis semata. Ia meminta setiap tim mampu menuangkan ide dan gagasan ke dalam karya yang memiliki nilai estetika sekaligus makna filosofis yang kuat.
"Logo bukan sekadar gambar atau simbol. Logo merupakan identitas visual yang dapat merepresentasikan karakter, sejarah, budaya, nilai-nilai, serta semangat suatu daerah," jelas Rizal.
Ia mencontohkan tagline edisi sebelumnya, Pontianak Bersahabat, yang hingga kini masih melekat di berbagai kegiatan publik. Bahkan bahasa tubuh bersalaman disebutnya menjadi kultur yang hampir selalu hadir di setiap pertemuan resmi maupun informal di kota ini.
Setelah mengikuti workshop, para peserta akan didampingi mentor untuk mengasah konsep desain. Dari 16 tim tersebut, kurator akan memilih lima karya terbaik sebagai finalis.
Dari lima finalis, hanya satu tim yang ditetapkan sebagai pemenang utama. Meski demikian, Rizal memastikan empat tim lainnya tetap mendapat apresiasi karena proses kreatif yang mereka lalui dinilai penting bagi ekosistem ekonomi kreatif Pontianak.
Kegiatan ini menjadi uji coba pola baru perancangan logo yang melibatkan kurasi ketat dan pendampingan mentor. Jika evaluasi menunjukkan dampak positif, Disporapar berencana melanjutkan model serupa pada perayaan hari jadi berikutnya.
"Manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya kepada narasumber, berdiskusi, bertukar gagasan, serta memperkaya wawasan mengenai proses kreatif dalam menghasilkan sebuah desain," pesan Rizal kepada 16 tim yang hadir.
Ia berharap workshop ini menjadi langkah awal lahirnya karya desain yang berdaya dan mampu merepresentasikan semangat Kota Pontianak di usia ke-255 tahun.