Dampak Karhutla pada Bayi dan Balita: Ancaman ISPA yang Perlu Diwaspadai Ibu

Penulis: Ramli Siregar  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 13:03:31 WIB
Bayi dan balita menjadi kelompok paling rentan terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap karhutla.

KALIMANTAN BARAT — Musim kemarau tahun ini membawa kekhawatiran baru bagi para ibu. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai daerah tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan keluarga, terutama bayi dan balita yang sistem pernapasannya masih rentan. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menyoroti urgensi kesiapsiagaan sektor kesehatan untuk menghadapi dampak buruk kualitas udara ini.

Mengapa Bayi dan Balita Paling Berisiko?

Polusi udara akibat karhutla mengandung partikel halus yang dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam paru-paru. Bagi orang dewasa saja sudah terasa mengganggu, apalagi bagi bayi dan balita. Saluran pernapasan mereka yang masih berkembang membuat mereka jauh lebih rentan terhadap iritasi dan infeksi.

Netty menjelaskan bahwa memburuknya kualitas udara ini menjadi faktor pemberat kasus ISPA yang selama ini angkanya sudah tinggi di Indonesia. "Jika ini menjadi salah satu faktor pemberat kasus-kasus ISPA, selama ini kan ISPA juga sudah tinggi. Nah tentu ini akan memperberat kasus ISPA, infeksi saluran pernapasan akut yang memang sering terjadi pada kelompok bayi balita," ujarnya di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Antisipasi Pemerintah untuk Melindungi Si Kecil

Menanggapi situasi ini, pemerintah didorong untuk segera meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan. Ini bukan hanya soal mengobati, tapi juga mencegah dampak yang lebih parah. "Pemerintah sudah harus meningkatkan kesiapsiagaan, mulai dari menyiapkan fasilitas kesehatan di tingkat dasar yaitu layanan primer di puskesmas, termasuk juga di layanan rujukan di rumah sakit-rumah sakit milik pemerintah maupun rumah sakit swasta," tegas Netty.

Selain memastikan fasilitas kesehatan siap, sistem rujukan antara puskesmas dan rumah sakit juga harus berjalan efektif. Tujuannya jelas, agar masyarakat terdampak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dengan cepat dan berkesinambungan tanpa hambatan.

Perlindungan untuk Garda Terdepan Kesehatan

Di balik upaya melindungi masyarakat, ada tenaga kesehatan yang bekerja ekstra di lapangan. Dokter, perawat, dan petugas penunjang adalah garda terdepan yang memastikan layanan kesehatan tetap berjalan di tengah situasi darurat kabut asap.

Netty mengusulkan adanya kebijakan afirmasi bagi mereka, seperti pemberian insentif dan perhatian khusus pada pemenuhan gizi. "Saya mengusulkan kepada tenaga kesehatan di berbagai kawasan bencana, sudah seharusnya pemerintah memberikan sebuah kebijakan afirmasi dalam bentuk insentif atau kemudian perhatian pemenuhan gizi buat tenaga kesehatan sehingga mereka betul-betul bisa menjalani tugas dengan prima," pungkasnya.

Langkah Praktis Lindungi Anak dari Kabut Asap

Sambil menunggu langkah pemerintah, ada beberapa hal yang bisa ibu lakukan di rumah untuk meminimalkan risiko kesehatan anak:

  • Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan: Saat kualitas udara buruk, tunda dulu bermain di luar. Jika terpaksa, batasi waktunya dan gunakan masker khusus anak.
  • Pastikan Udara Dalam Ruangan Bersih: Tutup jendela dan gunakan air purifier di ruangan tempat anak beraktivitas. Pastikan juga rumah bebas dari asap rokok dan dapur.
  • Perbanyak Cairan: Pastikan anak minum air putih yang cukup untuk menjaga kelembapan saluran pernapasan dan membantu mengencerkan dahak.
  • Pantau Gejala ISPA: Waspadai gejala seperti batuk, pilek, demam, dan sesak napas. Jangan ragu untuk segera membawa anak ke puskesmas atau dokter jika gejala muncul.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Jangan menunggu gejala memburuk. Segera bawa Si Kecil ke fasilitas kesehatan terdekat jika ia menunjukkan tanda bahaya seperti napas cepat atau sesak, demam tinggi, tidak mau makan atau minum, atau terlihat sangat lemas. Penanganan dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Menjaga kesehatan anak di tengah kondisi lingkungan yang tidak menentu memang penuh tantangan. Namun, dengan kewaspadaan dan langkah antisipasi yang tepat, ibu bisa menjadi pelindung pertama bagi Si Kecil dari ancaman ISPA akibat kabut asap.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: kosadata.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top