Kapolda Kalbar Turun ke Lahan Gambut Terbakar di Kubu Raya, 20 Hektare Hangus dan Masih Menyisakan Bara

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:02:01 WIB
Kapolda Kalbar Irjen Pol. Alberd Teddy Benhard Sianipar turut menyemprotkan air ke lahan gambut yang terbakar di Desa Limbung, Kubu Raya, untuk membasahi bara di bawah permukaan tanah.

KUBU RAYA — Puluhan personel gabungan masih disiagakan di lokasi kebakaran lahan gambut di Desa Limbung hingga menjelang petang. Fokus utama operasi saat ini bukan lagi memadamkan kobaran api di permukaan, melainkan membasahi lapisan gambut secara menyeluruh agar bara di bawah tanah tidak kembali memicu titik api baru.

Kapolda Kalbar Irjen Pol. Alberd Teddy Benhard Sianipar yang tiba di lokasi sore hari tidak hanya melakukan pengecekan. Ia ikut turun tangan menyemprotkan air ke sejumlah area yang masih mengeluarkan asap tipis.

Ancaman Bara di Bawah Lapisan Gambut

Menurut Alberd, kebakaran lahan gambut memiliki karakter berbeda dibanding karhutla di lahan mineral. Api dapat menjalar di bawah permukaan tanpa terlihat jelas, lalu muncul kembali di lokasi lain yang jauh dari titik awal.

"Masih ditemukan titik-titik bara atau smoke spot di dalam gambut. Ini yang berbahaya karena bisa kembali memunculkan api jika tidak ditangani secara tuntas," kata Alberd saat meninjau lokasi.

Petugas terlihat membentangkan selang air di antara semak-semak sambil melakukan pemeriksaan hingga ke dalam tanah. Proses pendinginan ini menjadi kunci agar lapisan gambut benar-benar basah dan tidak menyisakan panas yang bisa memantik kebakaran susulan.

Cuaca Panas dan Minim Hujan Perparah Risiko Karhutla

Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 20 hektare. Kondisi cuaca panas dan minim hujan yang melanda Kalimantan Barat dalam beberapa pekan terakhir disebut memperbesar risiko penyebaran api.

Kapolda juga berdialog dengan warga sekitar yang terdampak asap. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, dan segera melaporkan jika menemukan indikasi pembakaran lahan di lingkungannya.

Alberd menegaskan penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan aparat. Peran aktif warga sangat dibutuhkan untuk mencegah munculnya titik api baru, terutama di tengah kondisi cuaca yang masih kering.

Kebakaran di Limbung menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla di lahan gambut masih serius. Satu bara yang tidak tertangani dapat kembali memicu api dan memperluas area terbakar.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: spektroom.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top