KALIMANTAN BARAT — TPSS Gedebage memperkuat kapasitas pengomposan dengan menghidupkan kembali sejumlah mesin rotary komposter. Pengoperasian mesin ini menjadi bagian dari upaya mengurangi timbunan sampah organik sekaligus memastikan setiap material diolah sesuai karakteristiknya.
Supervisi Komposting TPSS Gedebage, Nandang Jumara, mengatakan tidak semua sampah organik yang masuk ke fasilitasnya cocok direduksi melalui metode maggotisasi. Material seperti dedaunan, daun pisang, hingga tanaman kebun membutuhkan proses pengomposan terlebih dahulu.
"Enggak semua organik itu bisa direduksi sama maggot. Kayak dedaunan, daun pisang, tanaman, itu pasti harus melalui proses kompos," kata Nandang saat ditemui di TPSS Gedebage, Rabu, 19 Agustus 2026.
Karakteristik sampah organik yang masuk ke TPSS Gedebage sangat beragam. Sampah kebun, dedaunan, ranting, hingga material tanaman berukuran besar membutuhkan penanganan berbeda dengan sisa makanan yang biasa menjadi pakan maggot.
Menurut Nandang, pendekatan kombinasi teknologi dan metode menjadi kunci pengelolaan sampah organik di lokasi tersebut. Setiap jenis sampah diproses berdasarkan potensi pemanfaatannya masing-masing, sehingga tidak ada material yang tertimbun percuma.
Pengaktifan mesin rotary komposter ini menunggu rampungnya pembangunan dan penguatan fasilitas Gedung Rotari. Dengan beroperasinya mesin tersebut, TPSS Gedebage kini memiliki tiga jalur pengolahan organik: open windrow, maggotisasi, dan pengomposan mekanis.
Metode open windrow selama ini menjadi andalan utama pengomposan di TPSS Gedebage. Namun dengan adanya mesin rotary, proses pengadukan dan aerasi material organik bisa berjalan lebih cepat dan merata.
Pengembangan fasilitas ini merupakan bagian dari upaya mengurangi timbunan sampah organik Kota Bandung. Hasil pengolahan kompos diharapkan kembali berguna bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Dengan kombinasi metode yang tersedia, TPSS Gedebage optimistis dapat menangani volume sampah organik yang masuk secara lebih optimal. Langkah ini juga memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah modern tidak bisa mengandalkan satu metode tunggal, melainkan memerlukan sinergi antara teknologi dan pendekatan biologis.