PONTIANAK — Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyebut tren ini menjadi sinyal bahwa ekonomi digital semakin diterima masyarakat. Selama lima tahun terakhir, jumlah merchant QRIS di Pontianak bertambah rata-rata 28.154 merchant setiap tahunnya.
“Pertumbuhan merchant QRIS ini menunjukkan masyarakat dan pelaku usaha semakin terbiasa dengan transaksi digital,” kata Edi di Pontianak, Selasa.
Pemkot Pontianak tidak berhenti pada perluasan jumlah merchant. Upaya yang digencarkan mencakup sosialisasi program QRIS bersama perbankan untuk UMKM, pelatihan pencatatan keuangan digital, hingga pengembangan sistem pembayaran pajak dan retribusi melalui aplikasi e-Ponti.
“Digitalisasi UMKM harus terus kita dorong. QRIS bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga bagian dari upaya memperluas akses keuangan dan meningkatkan literasi pelaku usaha,” ujar Edi.
Pemanfaatan QRIS terbukti ikut menopang kas daerah. Pada 2025, pendapatan melalui QRIS retribusi tercatat sebesar Rp493.338.125, mendorong realisasi pendapatan asli daerah dari sektor retribusi hingga Rp29.327.165.562.
Menurut Edi, digitalisasi pembayaran membantu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kemudahan layanan pemerintah kepada masyarakat. Ia menambahkan, keberhasilan penerapan QRIS memberi efek pengganda bagi UMKM: masyarakat kian terbiasa bertransaksi non-tunai, pelaku usaha terdorong ikut serta, dan ekosistem ekonomi digital semakin meluas.
“Semakin banyak pelaku UMKM yang masuk ke sistem pembayaran digital, semakin besar peluang mereka untuk berkembang, tercatat, dan mendapat akses pembiayaan,” jelasnya.
Edi berharap kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, perbankan, penyedia jasa sistem pembayaran, dan pelaku UMKM terus berlanjut. Dengan kerja sama tersebut, digitalisasi ekonomi di Pontianak diharapkan semakin inklusif dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Tujuan akhirnya adalah pelayanan lebih mudah, transaksi lebih aman, UMKM semakin maju, dan ekonomi Kota Pontianak semakin kuat,” kata dia.