KALIMANTAN BARAT — Pernyataan Gharibabadi ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan retorika antara kedua negara. Dalam wawancara dengan CNN pada Kamis, 6 Agustus, ia menegaskan bahwa komunikasi yang terjadi dengan Oman murni bersifat bilateral dan tidak melibatkan pihak ketiga. "Klaim AS bahwa negosiasi dengan Iran sedang berlangsung adalah tidak benar. Tidak ada negosiasi yang sedang berjalan," ujarnya.
Gharibabadi mengonfirmasi bahwa Teheran memang menerima sinyal dari AS yang menyatakan kesiapan untuk kembali pada komitmen sebelumnya. Namun, ia menekankan bahwa Iran belum mengambil keputusan untuk melangkah ke tahap berikutnya, yang berpotensi mengarah pada implementasi nota kesepahaman antara kedua negara.
"Kami belum memutuskan apakah akan melanjutkan ke tahap kedua," kata Gharibabadi, memberikan sinyal bahwa sikap Iran masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Sikap hati-hati ini menunjukkan bahwa meskipun ada saluran komunikasi, kepercayaan antara kedua pihak masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Situasi menjadi semakin rumit dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump. Di satu sisi, Trump mengklaim sedang terjadi "diskusi yang sangat baik" dengan Teheran dalam wawancara dengan Fox News. Namun di sisi lain, ia melontarkan ancaman terbuka bahwa AS akan melancarkan serangan baru yang keras terhadap Iran jika negara tersebut menarik diri dari komitmennya.
Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali "dalam waktu dekat", atau AS akan mengambil tindakan militer. Pernyataan yang saling bertentangan ini menciptakan kebingungan mengenai arah kebijakan Washington, sekaligus memperkuat alasan Teheran untuk bersikap skeptis terhadap niat AS.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, dilalui sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global setiap harinya. Ketegangan di kawasan ini memiliki dampak langsung terhadap harga energi dunia dan stabilitas ekonomi internasional.
Sikap ganda AS—mengulurkan tangan dialog sambil mengancam serangan—menempatkan Iran pada posisi yang sulit. Pemerintah di Teheran tampaknya memilih untuk tidak terburu-buru menanggapi isyarat dari Washington, mengingat pengalaman masa lalu yang pahit terkait kegagalan implementasi kesepakatan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian Luar Negeri AS mengenai bantahan Iran. Namun, perbedaan narasi antara kedua negara menunjukkan bahwa jalan menuju diplomasi masih panjang dan penuh ketidakpastian.