PONTIANAK — Pencapaian ini sekaligus mengembalikan Apple ke posisi puncak sebagai perusahaan dengan nilai pasar terbesar dunia, setelah sebelumnya sempat disalip oleh Nvidia sejak Juni 2025. Sepanjang 2026, saham Apple telah menguat sekitar 24 persen, melampaui kinerja enam perusahaan teknologi lain dalam kelompok Magnificent Seven.
Berbeda dengan raksasa teknologi lain yang menggelontorkan investasi besar untuk membangun pusat data kecerdasan buatan (AI), Apple memilih pendekatan yang lebih efisien. Perusahaan mengandalkan teknologi milik Google untuk mendukung fitur AI terbaru, termasuk pembaruan asisten virtual Siri.
Strategi tersebut membuat Apple tidak perlu mengeluarkan belanja modal besar untuk infrastruktur AI, yang saat ini menjadi tantangan bagi banyak perusahaan teknologi global.
Kepercayaan investor terhadap prospek bisnis Apple juga didorong oleh keputusan perusahaan mempertahankan harga iPhone pada peluncuran produk terbaru. Di sisi lain, Apple menaikkan harga beberapa produk lain seperti MacBook dan iPad, sembari menawarkan program cicilan untuk menjaga daya beli pelanggan.
Wakil Presiden sekaligus Principal Analyst Forrester, Dipanjan Chatterjee, menilai pendekatan ini menunjukkan prioritas Apple pada pengalaman pengguna.
“Apple telah menahan diri dari perlombaan belanja AI, dengan bertaruh bahwa pengalaman pelanggan, bukan investasi infrastruktur, yang pada akhirnya akan menentukan pemenang,” kata Chatterjee, dikutip dari Reuters.
Pencapaian ini menegaskan bahwa persaingan di industri teknologi tidak lagi semata-mata soal siapa yang paling banyak membangun pusat data AI. Apple membuktikan bahwa efisiensi dan fokus pada produk konsumen tetap bisa menghasilkan valuasi pasar yang mencetak rekor.
Meski sempat menembus US$ 5 triliun, kapitalisasi pasar Apple pada penutupan perdagangan kembali ke level US$ 4,96 triliun. Namun, pencapaian sesaat itu sudah cukup menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa strategi yang diambil perusahaan asal Cupertino tersebut masih relevan di tengah hiruk-pikuk investasi AI.