PONTIANAK — DPD HPI Kalimantan Barat dan SkTGA sepakat memperkuat komunikasi dan kolaborasi antarorganisasi profesi pramuwisata di kedua wilayah yang memiliki kedekatan geografis. Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu membahas sejumlah isu strategis kepariwisataan lintas negara.
Dalam forum tersebut, kedua organisasi mendiskusikan berbagai hal, mulai dari peningkatan kompetensi pramuwisata, perlindungan profesi, standar pelayanan wisatawan, etika kepemanduan, hingga tantangan yang dihadapi pemandu wisata di Indonesia dan Malaysia. Kedua pihak juga saling bertukar pengalaman mengenai tata kelola organisasi profesi dan program pengembangan sumber daya manusia.
"Pertemuan tersebut menjadi tonggak awal penguatan komunikasi dan kolaborasi antara organisasi profesi pramuwisata di kedua wilayah yang selama ini memiliki kedekatan geografis dan potensi besar dalam pengembangan wisata lintas batas," ujar Ketua DPD HPI Kalbar Fahroollyadi dalam keterangannya di Sarawak, Minggu.
DPD HPI Kalbar dan SkTGA juga menjajaki sejumlah program kolaboratif. Rencananya, kerja sama akan mencakup pertukaran informasi, pelatihan bersama, peningkatan kapasitas pramuwisata, promosi destinasi wisata, hingga pengembangan paket wisata lintas batas antara Kalimantan Barat dan Sarawak.
Fahroollyadi menekankan bahwa kedekatan geografis kedua wilayah menjadi modal penting untuk membangun sinergi yang lebih kuat di sektor pariwisata. "Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan silaturahmi, tetapi merupakan langkah awal membangun kemitraan strategis bagi peningkatan profesionalisme pramuwisata dan pengembangan wisata lintas negara," katanya.
Program kolaboratif tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing industri pariwisata di Kalimantan Barat dan Sarawak. Delegasi DPD HPI Kalbar yang dipimpin Fahroollyadi didampingi Bendahara Sohirah, Biro Organisasi Iwan Ponti, Biro Hukum dan Etik Anwar, serta Biro Hubungan Internasional Victor William Totti.
Mereka disambut oleh 26 pengurus dan anggota aktif SkTGA. Sambutan hangat itu dinilai menunjukkan semangat persahabatan dan komitmen bersama dalam memajukan profesi pramuwisata di Pulau Borneo.
"Komunikasi yang berkelanjutan menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata sekaligus memperkuat konektivitas wisata antara Indonesia dan Malaysia di kawasan Borneo," tutup Fahroollyadi.