KALIMANTAN BARAT — Gol Ibrahim pada menit ke-15 menjadi mimpi buruk pertama Argentina. Berawal dari sepak pojok pertama Mesir, bola liar dimainkan kembali ke sisi lapangan sebelum Attia mengirim umpan silang ke kotak penalti. Ibrahim memenangi duel udara melawan Lisandro Martinez dan menyundul bola keras ke pojok kanan atas gawang. Emiliano Martinez tak berkutik.
Argentina sebenarnya langsung merespons. Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, dan Rodrigo De Paul mulai menguasai lini tengah. Peluang emas sempat tercipta lewat umpan mendatar De Paul yang disambar Fernandez dari jarak dekat, namun wasit sudah lebih dulu mengangkat bendera offside.
Petaka terbesar datang pada menit ke-19. Nicolas Tagliafico dijatuhkan Hassan di kotak penalti setelah mengejar umpan Fernandez dari sisi kiri. Wasit Francois Letexier tanpa ragu menunjuk titik putih. Namun, Messi yang menjadi algojo gagal menjalankan tugasnya. Bola sepakannya mampu diblok kiper Mesir.
Kegagalan Messi jelas berdampak psikologis. Argentina yang seharusnya bisa menyamakan kedudukan justru harus menutup babak pertama dengan kepala tertunduk. Tekanan langsung meningkat: jika skor bertahan, Argentina akan tersingkir lebih awal dari turnamen yang mereka juarai empat tahun lalu.
Mesir tampil disiplin dan efektif. Satu peluang dari sepak pojok langsung dimaksimalkan menjadi gol. Sementara Argentina, meski dominan dalam penguasaan bola, gagal memecah kebuntuan. Satu-satunya peluang emas lewat penalti pun gagal dimanfaatkan.
Babak kedua akan menjadi ujian mental terbesar bagi skuad asuhan Lionel Scaloni. Argentina harus segera bangkit jika ingin memperpanjang napas di Piala Dunia 2026. Jadwal pertandingan masih menyisakan 45 menit penuh drama.