KALIMANTAN BARAT — Flock Safety, perusahaan rintisan yang memasok kamera pengawasan berbasis kecerdasan buatan (AI), kini menjadi pusat perdebatan publik di Amerika Serikat. Kamera yang awalnya dirancang sebagai pembaca plat nomor otomatis (ALPR) ini ternyata memiliki kemampuan yang jauh lebih luas. Melansir laporan terbaru, sistem ini bisa digunakan untuk melacak individu dan benda bergerak lainnya, tidak hanya kendaraan.
Kamera Flock menjalankan sistem operasi Android yang dimodifikasi. Rekaman video dikirimkan secara nirkabel ke basis data pusat, di mana AI akan mengkatalogkannya. Petugas kepolisian dapat mencari rekaman hanya dengan mengetikkan deskripsi obyek, seperti "sedan hijau dengan stiker bendera Amerika" atau "truk pickup dengan goresan cat di sisi kiri dan motor trail di bak belakang".
Kemampuan ini membedakan Flock dari kamera pengintai tradisional yang mengharuskan petugas memeriksa rekaman secara manual. Selain kamera ALPR, Flock juga menjual kamera keamanan AI, trailer keamanan bergerak, dan drone quadcopter yang semuanya beroperasi dengan prinsip serupa.
Jaringan kamera Flock tidak terbatas pada satu wilayah. Banyak departemen kepolisian bergabung dalam jaringan nasional. American Civil Liberties Union (ACLU) Massachusetts mencatat bahwa polisi dari Texas pun bisa mencari rekaman Flock milik negara bagian lain. Lebih mengkhawatirkan lagi, Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) dan badan keamanan dalam negeri lainnya kerap mendapatkan akses ke sistem ini melalui program berbagi data dengan kepolisian setempat.
Di Denver, ACLU Colorado memperoleh catatan yang menunjukkan bahwa kepolisian setempat telah melakukan lebih dari 1.400 pencarian atas nama ICE hingga Agustus lalu. Praktik ini berlangsung meskipun Flock tidak memiliki kontrak langsung dengan lembaga federal.
Flock Safety bersikukuh bahwa sistem mereka aman. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, setidaknya 70 kamera Flock ditemukan terekspos ke internet dan dapat diakses tanpa kata sandi melalui mesin pencari komersial. Kerentanan ini pertama kali diungkap oleh Benn Jordan, seorang musisi dan YouTuber tanpa latar belakang formal di bidang keamanan siber.
Jordan menemukan bahwa kamera yang terekspos merekam momen-momen pribadi warga, seperti anak-anak bermain di taman atau pasangan yang bertengkar. Kamera Condor buatan Flock, yang dirancang untuk melacak manusia, juga termasuk dalam perangkat yang rentan. Jordan bahkan berhasil merekam tanggapan Flock atas investigasinya langsung dari kamera Condor yang diretas.
Meskipun menuai kontroversi, kamera Flock telah terbukti membantu penyelidikan kriminal. Sistem ini dilaporkan membantu memecahkan setidaknya satu kasus pembunuhan dan membongkar aksi pencurian kendaraan. Namun, kritik utama tetap pada fakta bahwa sistem ini melacak semua orang, baik yang bersalah maupun yang tidak.
Setelah kamera Flock dipasang di suatu kota, mencabutnya hampir mustahil. Kekhawatiran akan penyalahgunaan oleh aparat dan potensi pelanggaran privasi massal terus menjadi isu yang belum terselesaikan. Bagi warga yang tinggal di area yang dipasangi kamera ini, perasaan diawasi setiap saat menjadi kenyataan yang tak terhindarkan.