SINGKAWANG — Grebeg Suro 2026 menyajikan pertunjukan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Alih-alih hanya menampilkan ritual tradisional, panitia mengintegrasikan sentuhan kreativitas kontemporer dari para pemuda.
Perpaduan ini terlihat jelas dalam kostum, properti, dan koreografi yang ditampilkan. Para peserta tidak hanya membawa gunungan dan hasil bumi khas tradisi Jawa, tetapi juga menyisipkan elemen seni instalasi dan pertunjukan jalanan modern.
Kegiatan yang digelar di sepanjang Jalan Diponegoro dan Alun-Alun Kota Singkawang ini diikuti oleh sedikitnya 200 orang. Mereka berasal dari belasan sanggar seni dan komunitas budaya yang ada di Singkawang dan sekitarnya.
Ketua panitia menyebut bahwa antusiasme generasi muda tahun ini meningkat. Banyak dari mereka yang justru mengusulkan ide-ide baru untuk memperkaya sajian Grebeg Suro tanpa meninggalkan pakem utamanya.
Meski mendapat sentuhan modern, panitia memastikan inti dari Grebeg Suro tetap dipertahankan. Ritual doa bersama dan kirab budaya yang menjadi ciri khas perayaan tetap menjadi agenda utama.
"Kami hanya ingin menunjukkan bahwa tradisi bisa beradaptasi. Anak muda tidak harus meninggalkan budayanya, tapi bisa mengemasnya ulang agar lebih relevan," ujar salah satu pengurus sanggar yang terlibat.
Grebeg Suro sendiri merupakan tradisi tahunan yang dirayakan oleh komunitas Jawa di Singkawang. Perayaan ini menandai bulan Suro dalam kalender Jawa dan menjadi ajang untuk memperkuat rasa kebersamaan antaretnis di kota tersebut.