PONTIANAK — Keberhasilan sejumlah negara membangun rel kereta api di atas lahan gambut menjadi kontras dengan kondisi di Kalimantan Barat. Proyek kereta api yang telah lama direncanakan untuk menghubungkan sejumlah wilayah di provinsi ini masih belum menunjukkan realisasi pembangunan fisik.
Berbeda dengan asumsi umum yang menyebut tanah gambut sebagai kendala utama, tantangan terbesar justru berada di luar aspek teknis lahan. Beberapa negara seperti Malaysia dan Kanada telah membuktikan bahwa pembangunan rel di atas gambut sangat mungkin dilakukan dengan teknologi dan metode konstruksi yang tepat.
Di Indonesia sendiri, pembangunan jalur kereta api di lahan gambut sebenarnya bukan hal baru. Proyek kereta api di wilayah Sumatera, misalnya, juga melewati area serupa dan telah beroperasi. Lantas, apa yang membuat Kalbar berbeda?
Keberhasilan pembangunan rel kereta api di lahan gambut di negara lain menunjukkan bahwa faktor geologis bukanlah penghalang mutlak. Teknologi stabilisasi tanah dan rekayasa konstruksi telah berkembang pesat, memungkinkan pembangunan infrastruktur berat di atas tanah lunak.
Pertanyaan mendasar yang muncul kemudian adalah soal kesiapan pendanaan, alokasi anggaran, serta prioritas pembangunan nasional. Proyek kereta api di Kalbar membutuhkan investasi yang tidak sedikit, dan hal ini kerap menjadi batu sandungan dalam proses perencanaan.
Rencana pembangunan jalur kereta api di Kalimantan Barat sejatinya telah masuk dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional. Namun, realisasi di lapangan masih jauh dari harapan. Berbagai kajian dan studi kelayakan telah dilakukan, namun belum ada titik terang mengenai kapan proyek ini akan mulai dikerjakan.
Ketidakjelasan jadwal ini tentu menjadi catatan tersendiri, terutama jika dibandingkan dengan proyek serupa di daerah lain yang sudah lebih dulu berjalan. Masyarakat Kalbar pun masih menunggu kepastian angkutan massal yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan konektivitas di wilayah perbatasan ini.