PONTIANAK — Kekhawatiran akan dampak penguatan dolar AS terhadap harga pangan di Kalimantan Barat disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan. Menurutnya, fluktuasi nilai tukar yang terus melemah terhadap dolar AS menjadi sinyal bahaya bagi sektor pangan lokal yang masih bergantung pada bahan baku impor.
"Ini ancaman nyata. Kalau tidak dikelola, harga beras, minyak goreng, dan tepung bisa ikut meroket. Akhirnya yang terbebani adalah masyarakat kecil," ujar Krisantus dalam keterangannya di Pontianak, belum lama ini.
Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mulai mengidentifikasi titik-titik rawan kenaikan harga. Krisantus menyebut pihaknya akan berkoordinasi dengan Bulog dan dinas terkait untuk memastikan distribusi pangan tetap lancar.
Beberapa langkah awal yang disiapkan antara lain mempercepat operasi pasar dan memaksimalkan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam menstabilkan harga. "Kami tidak ingin spekulan memanfaatkan situasi ini. Pengawasan di pasar tradisional akan diperketat," tegasnya.
Kekhawatiran Wagub bukan tanpa alasan. Data dari sejumlah pedagang di Pontianak menunjukkan harga beberapa komoditas mulai merangkak naik dalam sepekan terakhir. Meski belum signifikan, tren ini dianggap sebagai peringatan dini.
Krisantus menambahkan, pihaknya juga akan menggencarkan program pangan murah yang menyasar langsung ke tingkat kelurahan. "Kita intervensi dari hulu ke hilir. Petani harus dibantu, konsumen juga harus dilindungi," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, nilai tukar rupiah masih berada di level Rp 16.200-an per dolar AS. Pemprov Kalbar berharap langkah antisipasi yang disiapkan bisa meredam gejolak harga sebelum Lebaran mendatang.