MEMPAWAH — Kegiatan distribusi air bersih menyasar warga Kelurahan Tanjung yang selama ini mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Ketua Karang Taruna Muda Insan Cita Kelurahan Tanjung, Muhammad Iqbal, menyebut kondisi air tampungan warga tidak bisa langsung dimanfaatkan karena berwarna hitam dan keruh.
Dugaan sementara, warna dan kekeruhan air hujan itu berasal dari partikel asap serta kotoran yang terbawa selama karhutla berlangsung. Warga pun terpaksa mencari sumber air lain untuk minum, memasak, dan mandi.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengganggu aktivitas harian warga. Dampaknya merembet ke kualitas lingkungan, termasuk sumber air yang biasa ditampung masyarakat.
Air hujan yang jatuh membawa partikel asap dan kotoran, sehingga hasil tampungan berubah warna dan tidak layak dikonsumsi tanpa pengolahan. Kondisi itu membuat warga Kelurahan Tanjung kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih harian.
Iqbal menilai persoalan air bersih ini jarang disorot saat membahas dampak karhutla. Padahal, kata dia, air bersih adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda.
Karang Taruna Muda Insan Cita bergerak menyalurkan air bersih langsung ke permukiman warga. Aksi itu disebut sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya meringankan beban masyarakat terdampak.
Iqbal berharap kegiatan tersebut menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial di tengah dampak karhutla yang dirasakan warga.
"Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak hanya berupa kabut asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas lingkungan dan sumber air yang dibutuhkan masyarakat," ujarnya.
Organisasi kepemudaan itu menegaskan komitmennya untuk terus hadir membantu warga yang membutuhkan, sekaligus mendorong tumbuhnya solidaritas terhadap lingkungan.
"Karang Taruna Muda Insan Cita Kelurahan Tanjung akan selalu hadir, peduli, dan bergerak untuk masyarakat," tutup Muhammad Iqbal.